SUMEDANG (NN).- Pekan Wisata Budaya Geo Theater Rancakalong 2025 yang baru saja berakhir meninggalkan catatan panjang di balik gegap gempita pentas budaya. Meski secara umum acara berlangsung aman dan meriah, sejumlah kalangan menilai pelaksanaannya jauh dari rencana awal yang telah disusun.
Kegiatan yang menggandeng CV Mahugi sebagai event organizer (EO) utama ini disebut menghadapi berbagai kendala di lapangan. Koordinasi antara panitia inti, EO, dan pihak-pihak terkait dinilai tidak berjalan mulus, membuat beberapa agenda penting tidak terlaksana sesuai jadwal. Bagi sebagian peserta dan penonton, suasana sempat terasa seperti orchestra yang kehilangan konduktor, nada-nada budaya yang seharusnya berpadu indah justru terdengar timpang di beberapa bagian.
Di luar persoalan teknis, muncul pula sorotan mengenai dugaan ketidakteraturan dalam pengelolaan keuangan. Beberapa pihak menilai alokasi dana dari bantuan pemerintah tidak sepenuhnya mengalir ke kegiatan inti. Dugaan adanya “juksung” atau penggunaan dana yang tidak sesuai peruntukan menambah daftar panjang hal yang perlu diklarifikasi.

“Transparansi dan akuntabilitas seharusnya menjadi ruh dari setiap kegiatan publik, apalagi yang membawa nama daerah,” ujar salah seorang pemerhati budaya Rancakalong. Ia menilai kegiatan semacam ini idealnya menjadi jendela untuk memperlihatkan kematangan manajemen kebudayaan, bukan sekadar pesta seremonial.
Ketua Panitia Penyelenggara, Dr. Rony Hidayat Sutisna, S.Sn., M.Pd., mengakui masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan. Dalam keterangannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi serta berharap ke depan koordinasi dapat lebih solid dan profesional.
“Kami menyadari masih banyak hal yang harus diperbaiki. Ini akan menjadi bahan evaluasi agar kegiatan berikutnya lebih tepat sasaran dan berdaya guna bagi masyarakat,” ujarnya.
Sejumlah tokoh masyarakat Rancakalong menilai bahwa Pekan Wisata Budaya seharusnya menjadi momentum besar untuk mengangkat potensi lokal dan memperkuat pariwisata daerah. Namun, lemahnya pengawasan dan koordinasi membuat peluang itu seolah terlewat begitu saja.
Mengingat kegiatan ini menggunakan dana bantuan pemerintah, berbagai pihak menilai evaluasi menyeluruh mutlak dilakukan. Bukan sekadar untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memastikan agar panggung budaya tak berubah menjadi panggung kepentingan.
Evaluasi yang jujur dan transparan diharapkan bisa menjadi landasan bagi pelaksanaan acara serupa di masa mendatang — agar Rancakalong benar-benar dikenal bukan karena polemik di balik layar, melainkan karena gemerlap budayanya yang hidup, terarah, dan bermartabat. ***